Kamis, 28 Maret 2013

bunderan mangga indramayu

bunderan mangga milik dermayu

SUKU GAYO


suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Suku Gayo mendiami tiga kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues. Suku Gayo juga mendiami beberapa desa di Kabupaten Aceh Tenggara , Kabupaten Aceh Tamiang , Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya dan di Kecamatan Serba Jadi di Kabupaten Aceh Timur.

Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo.

Kepercayaan

Suku Gayo beragama Islam,tetapi masih ada yang percaya terhadap praktek perdukunan.

Mata pencaharian

Mata pencaharian utama adalah bertani dan berkebun dengan hasil utamanya kopi. Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun. Kerajinan lain yang cukup mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang Gayo, dengan motif yang khas.

Kerajaan Lingga

Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya "Gajah Putih" yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

DINASTI LINGGA

1. Adi Genali Raja Lingga I di Gayo
Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
Raja Meurah Johan(pendiri Kesultanan Lamuri)
Meurah Silu (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan


2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga

PENERUS WALI SONGO


Kedekatan saya dengan gus Dur diawali sekitar tahun 1983. Ia sering datang kerumah, dan berbincang-bincang dengan santai dan familiar. Gus Dur berbicara dengan sangat bebas dan terbuka dengan tanpa ada tirai sedikit pun. Itu berjalan hampir kurang lebih tujuh tahun, ketika Gus Dur masih banyak waktu. Namun, saat kesibukannya mulai banyak, ia mulai jarang datang.
Selama pergaulan itu, saya melihat pemikiran dan sikap Gus Dur sama seperti umumnya kiai-kiai pesantren. Gus Dur , kalau menurut ukuran santri, sebenarnya tidak ada yang terlalu nyeleneh, biasa saja.pemikiran-pemikirannya biasa, dan hanya meneruskan tradisi-tradisi yang sudah ada di pesantren.karena Gus Dur memang datang dari latar belakang yang khas (pesantren). akibatnya ketika orang luar pesantren menilai Gus Dur- tanpa memahami dunia pesantren-sering kali jatuh pada kesimpulan nyeleneh. Misalnya, tentang ide pribumisasi Islam. Ide itu sebenarnya sesuai dengan kebiasaan NU yang mewarisi tradisi walisongo. Lalu, pribumisasi Islam ini menjadi ide besar Gus Dur. Inilah yang saya maksud, bahwa pemikiran Gus Dur itu biasa dan memang sudah ada sebelumnya.
Saya paham, karena Gus Dur datang dari pesantren, maka basic pemikirannya pun pasti datang dari tradisi pesantren. bisa dikatakan, Gus Dur itu merupakan cerminan jiwa santri. Namun, karena Gus Dur banyak bergumul dengan literature Barat ketika di Mesir dan di Baghdad, maka beda dengan santri biasa. Sebagaimana dengan yang diakui Gus Dur sendiri, sejak kecil dia sudah biasa mempelajari filsafat, dan ketika berumur 16 tahun, ia sudah khatam membaca Des capital. Jadi pada dasarnya, pemikiran Gus Dur ber-basic pesantren, baru pada tahap pengembangannya menyerap unsur pemikiran Barat.
Dalam hal ini, Gus Dur pernah mengakui, sewaktu ICMI baru akan dibentuk, Nurcholis Madjid mengajaknya masuk kedalam ICMI, tetapi Gus Dur menolak dengan alasan sektarianisme. Dalam obrolan teman-teman ICMI, “kalau Gus Dur tidak masuk ICMI, Gus Dur akan kehilangan basis intelektualnya.”Gus Dur segera menimpali, “sejak kapan ICMI menjadi basis intelektual saya, basis intelektual saya itu di pesantren, kiai pondokan, sekali lagi bukan di ICMI.” Pada kesempatan lain, Gus Dur juga mengakui bahwa “saya ini kiai pesantren”. dari situ jelas bahwa Gus Dur adalah santri yang punya kerangka dan wawasan yang punya kerangka dan wawasan yang bisa mengemas pesantren sesuai selera kontemporer (kontekstual). Nah, begitulah Gus Dur.
Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang luar biasa, bukan dalam arti bersetatus wali , tapi lebih pada sikap bijaksana, super. Bagi orang yang menganggap waki, itu terserah. Sebab tergantung siapa yang menilai. Dengan Gus Dur sebagai tokoh agama, banyak orang lantas lebih bersikap husnu al-dhan (prasangka baik)dari pada su’u al-dhan (prasangka buruk) dalam menilai. Dari husnu al-dhan ini, segala macam sikap dan perbuatanGus Dur selalu diterma tanpa berusaha mengkritisinya lebih dulu. Ketika ada yang berusaha melakukan reaksi (kritik), dari tindakan yang dilakukan Gus Dur, ternyata-setelah sya kejar-kejar untuk mendapat jawabannya- reaksi itu hanya sebatas pada tataran teknis aplikatif, yang dianggapnya terlalu sulit, mengawang-awang. Bukan pada aras substansi pemikiran Gus Dur. Malah kalau ada kesempatan berdialog dengan Gus Dur bisa jadi sikap kontra itu berubah menjadi pro, pengikut setia. Lagi-lagi, bukan pada substansi pemikiran, tapi mungkin juga lebih pada kepentingan politik semata.
Akan tetapi, dalam hal-hal tertentu yang para kiai belum paham setelah mendapatkan penjelasan dari Gus Dur, mereka jadi legowo. Meski begitu banyak pula kiai yang berusaha mengkritik Gus Dur. Kayak Kiai Musthofa Bisri yang kerap melontarkan kritik pada rapat-rapat tertutup PBNU, atau kiai-kiai sepuh dalam obrolan-obrolan terbuka. “anu loh Gus, jalannya jangan cepat-cepat, kami tidak bisa mengikuti,” begitu kritik kiai sepuh. Dikritik begitu, gus Dur menjawab , “secepat-cepatnya saya kan masih muda , kalau pak kiai kan sudah tua.’kritikan-kritikan tersebut sebenarnya tajam , tapi caranya yang beda dan lebih halus. Belum lagi didukung oleh suatu factor, bahwa sesungguhnya para kiai sangat husnu al-dhan terhadap Gus Dur, karena ia cucu dari Hadaratus Syeikh hasyim Asy’ari.
Latar belakang diterimanya pemikiran Gus Dur di kalangan kiai, diantaranya, karena Gus Dur menguasai cabang-cabang ilmu yang ada di Pondok Pesantren, misalnya ilmu alat(nahwu), fiqh, dan tasawuf. Dan juga karena sangkut paut hubungan kiai dan santri dalam pesantren. sampai pada massalah syair-syair, dari syair jahiliyah sampai syair abbasiyah, dari nama penyair sampai isi syairnya , Gus Dur banyak hapal. Saya juga dalam hal syair-syair yang aneh, dari yang sufi sampai yang yang paling jorok kadang hapal. Tapi, kalau ngobrol sam Gus Dur mengenai syair, ada saja syair yang ternyata belum saya ketahui. Mulai dari yang aneh isi dan tulisannya, nyatanya Gus Dur tahu syair-syair yang seperti itu. Ada juga ilmu yang sangat Gus Dur dalami, yaitu fiqih dan tasawuf. Pokoknya bicara apa saja nyambung. Ketika kita ingin mengadu argumentasi atau pemikiran dengan Gus Dur, kita jadi minder duluan. Karena, Gus Dur sering memberokan alasan-alasan yang tak terduga sebelumnya.
Kelemahan Gus Dur selama ini terdapat dalam setiap mengartikulasikan produk pemikiran pada tataran teknis aplikatif. Ia sering tidak memperhitungkan, atau tidak memperdulikan tanggapan orang lain. Masyarakat ngerti atau tidak terhadap pemikiran yang Ia lontarkan, Gus Dur bersikap masa bodoh. Padahal hidup di dunia itu kan tidak sendirian, tidak semestinya Dia seperti itu. Yang terjadi memang, ketika mengajak orang awam untuk maju, kita tersandung oleh kesulitan memahami dan menafsirkan lontaran pemikran Gus Dur. Akhirnya ambivalensi terjadi ketika kita hendak memajukan orang awam. Kalau Gus Dur sendiri jelas sudah maju, tapi lagi-lagi kalau disampaikan kepada Gus Dur, Ia menjawab, “kalau tidak dipaksa-paksa malah tidak maju-maju.”
bersambung...
(tulisan ini merupakan hasil transkrip wawancara saudara Marzuki Wahid dengan alm KH.MA. Fuad Hasyim.../Pengasuh Pon.Pest. Nadwatul Ummah Buntet Pesantren Cirebon).